Analisis Nilai Budaya dalam Tradisi Ngotum pada Masyarakat Dayak Pangkodant: Kajian Antropologi Sastra dan Relevansinya terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia

Main Article Content

Devita Devita
Elva Sulastriana
Indriyana Uli

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai-nilai budaya dalam tradisi Ngotum pada masyarakat Dayak Pangkodant di Desa Lape, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau, serta mengkaji relevansinya terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis etnografi dalam kerangka antropologi sastra. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Ngotum mengandung tiga kategori nilai budaya utama, yaitu relasi manusia dengan Tuhan, relasi manusia dengan alam, dan relasi manusia dengan masyarakat. Nilai spiritual tercermin melalui praktik doa dan syukur dalam setiap tahapan berladang. Nilai ekologis tampak pada pemanfaatan sumber daya alam secara bijak dan berkelanjutan. Sementara itu, nilai sosial terwujud dalam praktik gotong royong, tolong-menolong, dan kekeluargaan yang memperkuat kohesi sosial masyarakat. Temuan penelitian ini juga menunjukkan bahwa tradisi Ngotum memiliki relevansi sebagai sumber pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya dalam materi sastra lisan dan cerita rakyat. Integrasi tradisi lokal dalam pembelajaran dapat meningkatkan literasi budaya, keterampilan berbahasa, serta kesadaran identitas budaya peserta didik.

Article Details

Section
Articles

References

Aisah, S. (2015). Strategi pembelajaran bahasa Indonesia. Yrama Widya.

Endaswara, S. (2012). Metodologi penelitian folklor: Konsep, teori, dan aplikasi. Ombak.

Hafidhan. (2017). Antropologi untuk SMA/MA kelas XII. Erlangga.

Hindaryatiningsih, N. H. (2016). Model proses pewarisan nilai-nilai budaya lokal dalam tradisi masyarakat Buton. Sosiohumaniora, 18(2), 100–107. https://doi.org/10.24198/sosiohumaniora.v18i2.9228

Koentjaraningrat. (2015). Pengantar antropologi. Rineka Cipta.

Nawawi, H. (2015). Metode penelitian bidang sosial. Gadjah Mada University Press.

Nurmanita, M. (2021). Perwujudan nilai budaya dalam tradisi bedendang melalui aplikasi TikTok sebagai bentuk kearifan lokal Bengkulu Selatan. Almaarief, 55–65. https://doi.org/10.35905/almaarief.v3i2.2104

Pradanta, S. W., Sudardi, B., & Subiyantoro, S. (2015). Kajian nilai-nilai budaya Jawa dalam tradisi bancaan weton di Kota Surakarta: Sebuah kajian simbolisme dalam budaya Jawa. Lingua: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 12(2), 155–172. https://doi.org/10.30957/lingua.v12i2.25

Rahmawati, D. (2021). Nilai-nilai sosial dan budaya dalam tradisi mantu poci di Kota Tegal Jawa Tengah (Kajian antropologi sastra). Tabasa: Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya, 2(2), 1–18. https://doi.org/10.22515/tabasa.v2i2.3852

Rifa’i, A., & Fadhilasari, I. (2022). Bentuk dan nilai budaya dalam tradisi grebeg suro pada masyarakat Mojokerto. Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra), 7(2), 222–228. https://doi.org/10.36709/bastra.v7i2.107

Rukesi, M., & Sunoto. (2017). Pendidikan budaya dan karakter bangsa. Deepublish.

Satoto, E. (2012). Metode penelitian sosial budaya. Graha Ilmu.

Suratman, S., Sugiyanto, T., & Slamet, S. (2014). Geografi untuk SMA/MA kelas XI. Erlangga.

Susanto, H. (2016). Teori sastra: Konsep dan penerapannya. Angkasa.

Tathmainnul, F., Nur, D. M. M., & Alfaris, M. R. (2024). Nilai budaya dalam tradisi uler-uleran di Jungsemi Wedung Demak. Tamaddun: Jurnal Kebudayaan dan Sastra Islam, 24(2), 67–76. https://doi.org/10.19109/tamaddun.v24i2.22977